Siang ini saya akan berbagi ilmu tetang Al-Qur'an sebagai pedoman Hidup kita..
Al-Quran merupakan salah satu kitab langit yang diturunkan Allah sebagai petunjuk
berkehidupan bagi manusia. Pernyataan ini menunjukan bahwa Al-Quran sama sekali tidak menafikan eksistensi kitab langit lainnya, seperti : Taurat (Q.S. Al-Maidah 5: 44-45), Zabur (Q.S. Al-Ambiya` 21 :105), dan Injil ( Q.S. Al-Fath 48 :28). Al-Quran turun berfungsi sebagai mushaddiqan (membenarkan) terhadap kitab-kitab sebelumnya dan sekaligus sebagai penyempurna baginya. Al-Quran merupakan kontinyuitas progresif bagi kitab-kitab yang hadir sebelum Al-Quran.
Al-Quran turun sebagai media komunikasi Allah kepada manusia dan sekaligus sebagai sumber nilai dan tuntunan bagi kehidupan mereka. Hal ini bisa dilihat dari tema-tema Al-Quran yang dapat dikatakan berisi tiga ajaran pokok yang merupakan pedoman bagi kehidupan manusia, yaitu : Pertama, petunjuk akidah atau tauhid (bagaimana manusia secara tepat melihat posisi antara mereka dan Tuhannya), Kedua, petunjuk mengenai syariat dan hukum serta ibadah (baik mengenai hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, baik ibadah maghdah maupun ghairu maghdah), dan Ketiga, petunjuk mengenai akhlak (baik akhlak terhadap Allah, sesama manusia maupun dengan alam semesta). Ketiga pokok ajaran di atas dapat diwakili dengan tiga kata : Iman, Islam, dan Ihsan.
Kedudukan Al-Quran sebagai media komunikasi dan petunjuk di atas, sayangnya tidak banyak dipahami secara benar oleh manusia, khususnya umat Islam sendiri. Tidak banyak umat Islam yang mampu membaca realitas yang dihadirkan Al-Quran. Hal ini dikarenakan mayoritas umat Islam hanya membaca Al-Quran secara “kering” dan belum mampu memahami ungkapan-ungkapan dan pesan-pesan yang ingin disampaikan Al-Quran. Dengan kata lain, ketika umat Islam berhadapan dengan Al-Quran, yang lahir hanyalah suara tanpa makna. Meskipun secara ritual merupakan ibadah yang berimplikasi pada pencapaian pahala ilahi.
Padahal substansi dan hakikat Al-Quran terkandung pada makna setiap kalimah-nya (katanya). Karenanya, tanpa mengetahui makna-makna setiap kata dalam Al-Quran sulit bagi manusia untuk menempatkan Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan dan membumikannya sebagai jalan hidup atau akhlak sehari-hari.
Perbedaan Al-Quran, Hadis Qudsi, dan Hadis
Secara sederhana Al-Quran didefinisikan sebagai Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad lewat perantaraan malaikat jibril, baik lafadz maupun maknanya. Sedangkan hadis qudsi diartikan pernyataan yang diriwayatkan berasal dari Rasul, yang isinya berkaitan dengan sabda atau tindakan Allah terhadap manusia, hanya saja pernyataan tersebut bukan merupakan bagian dari Al-Quran. Dengan kata lain hadis qudsi merupakan firman Allah secara maknawi karena redaksi yang digunakan berasal dari Nabi Muhammad. Oleh karena itu, membaca hadis qudsi tidak berimplikasi pada perolehan pahala, sebagaimana ketika membaca Al-Quran.
Perbedaan lainnya adalah Al-Quran secara keseluruan diriwayatkan secara mutawatir (oleh banyak orang) dan terjaga keaslian dan keontentikannya oleh jaminan Allah sendiri (al-Hijr 15 : 9), sementara kebanyakana hadis qudsi diriwayatkan secara individual (ahad), sehingga tidak semua hadis qudsi bisa diterima atau nilainya sahih. Kita mengenal hadis sahih, hasan, dho`if (lemah) dan hadis maudhu` (hadis palsu).
Adapun hadis adalah laporan atau kabar yang berupa perkataan ( seperti hadis Innamal a`maalu bin niyyaat), perbuatan ( seperti hadis Sholluu kamaa roaytuuniy usholliy dan khudzuu `anniy manaasikakum) dan ketetapan Nabi Muhammad saw. Hadis tidak dinyatakan dan diriwayatkan dengan redaksi yang baku, sebagaimana Al-Quran. Dan tidak ada jaminan dari Allah untuk selalu menjaganya, sebagaimana jaminan Allah untuk menjaga Al-Quran.
Nama-nama Al-Quran
Al-Quran merupakan salah satu nama yang diberikan Allah. Terdapat nama-nama lain yang diberikan Allah kepada Al-Quran. Nama-nama tersebut atara lain: Al-Kitab (buku, tulisan, Q.S. Al-Ambiya` 21:10), Al-Furqan (pembeda yang baik dan yang buruk, Q.S. Al-Furqan 25:1), Al-Dzikr (Pengingat, Q.S. Al-Hijr 15:9), dan Al- Tanzil (yang diturunkan, Q.S. Al-Syu`ara` 26:192). Namun yang paling sering dipakai adalah nama Al-Quran dan Al-Kitab. Menurut Dr. M. Abdullah Daraz, kedua nama ini paling sering dipakai karena keberadaan Al-Quran sendiri yang selalu dibaca dengan lisan dan terdokumentasikan dalam wujud tulisan (kitab).
Selain mempunyai banyak nama, Al-Quran juga mempunyai beberapa sifat dan fungsi, antara lain : an-Nur (cahaya, an-Nisa` 4:174), al-Huda ( petunjuk, al-Baqarah 2 : 2), al-Syifa` (obat, penyembuh, al-Isra` 17 : 82), al-Rahmah (sebagai rahmat, al-Isra` 17 : 82), al-Mau`idzah (pelajaran atau wejangan, Yunus 10:57), al-Busyraa (kabar gembira, Al-Baqarah 2:97), Al-Nadzir (pemberi peringatan, Fushilat 41:3-4), al-Mubarak (yang diberkati, al-An`am 6:92) dan lain-lain.
Keutamaan Al-Qur`an
Allah memuliakan orang-orang yang menjadi ahlul Qur`an dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya dengan berbagai keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah bersabda : “Ahlul Qur`an adalah keluarga dan orang-orang khusus di sisi Allah”. (H. R.Nasai dan Ibnu Majah).
Dari Utsman bin Affan diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “ Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya”. (H.R.Muslim dan Abu dawud).
Dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Hasad hanya diperbolehkan terhadap dua orang : orang yang diberikan Allah Al-Qur`an kemudian ia selalu membacanya di malam dan siang hari. Dan orang yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia menginfaqkannya siang dan malam”. (H. R. Bukhari Muslim).
Di hadis yang lain Rasulullah bersabda : “ Orang yang membaca Al-Qur`an dengan lancar akan dikumpulkan bersama para malaika yang baik dan Mulia. Sementara orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan dalam membacanya, akan memperoleh dua pahala”. (H. R. Bukhari Muslim).
Dalam kesempatan yang lain Rasulullah pernah bersabda : “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu pahala kebaikan, dan satu pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf “. (H.R. Tirmidzi)
Berkaitan dengan majlis Qur`an dan keutamaannya, Rasulullah bersabda : “ Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mengakajinya di antara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rakhmat akan selalu menyelimuti mereka, para malaikat senantiasa mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya”. ( H. R. Muslim dan Abu Dawud).
Fungsi Al-Qur`an
Al-Qur`an diturunkan Allah kepada manusia bukanlah tanpa tujuan. Al-Qur`an hadir di hadapan manusia untuk menjadi :
Hudan, petunjuk. Al-Qur`an hadir di hadapan manusia sebagai petunjuk dan arahan serta peta kehidupan. Sehingga dengan mengikuti petunjuk dan arahannya serta membaca petanya manusia bisa menjalani hidupnya dengan benar, sesuai dengan sang Pemberi Petunjuk, yaitu Allah swt. Allah berfirman :
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Al-baqarah 2 : 2)
Sebagai tabyinan, penjelasan. Artinya Al-Qur`an hadir berfungsi sebagai penjelasan atas berbagai macam masalah dan persoalan, baik itu persoalan akidah, ibadah, mu’amalah maupun akhlak. Allah berfirman :
لَقَدْ أَنْزَلْنَا ءَايَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (an-Nur 24 :46)
3. Sebagai Furqon, pembeda. Al-Qur`an datang berfungsi sebagai pembeda antara yang haq atau benar dan yang batil atau salah. Antara yang halal dan yang haram. Antara yang diperintahkan dan yang dilarang. Allah berfirman :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al-Baqarah 2:185)
4. Sebagai rakhmat. Artinya Al-Qur`an hadir di hadapan manusia berfungsi sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Selain itu dengan membacanya akan menimbulkan rasa damai dan tentram dalam hati. Al-Qur`an berfirman :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا.
Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra` 17 : 82)
5. Sebagai nuran, cahaya. Al-Qur`an juga berfungsi sebagai cahaya yang akan menerangi kehidupan pembacanya. Sehingga dengan cahaya Al-Qur`an tersebut dia akan terhindar dari kesesatan dan jalan kegelapan. Dengan bimbingan cahaya Al-Qur`an manusia akan mampu menempuh perjalanan menuju Allah dengan benar dan lurus. Allah berfirman :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا.
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an). (an-Nisa` 4 : 174)
6. Sebagai syifa`, obat. Al-Qur`an berfungsi sebagai obat bagi para pembaca dan pengamalnya. Baik itu obat batin, yaitu obat yang akan menyembuhkan berbagai penyakit hati yang diderita manusia, seperti takabur, munafik, iri, dengki, ujub dan penyakit hati lainnya. Selain sebagai obat batin, Al-Qur`an juga berfungsi sebagai obat fisik. Dengan membaca ayat-ayat Al-Qur`an akan mampu menyembuhkan berbagai penyakit fisik.
Adab dan Etika Membaca dan Memahami Al-Qur`an
Untuk bisa menjadikan Al-Qur`an sebagai hudan, tabyin, furqon, rakhmat, nuran, dan syifa, ada beberapa adab dan etika yang mesti disiapkan dan dilakukan sebelum membaca Al-Qur`an. Adap dan etika tersebut antara lain :
Istiadzah, memohon perlindungan kepada Allah agar dalam membaca dan memahami Al-Qur`an tidak tergoda dan diselewengkan oleh bisikan setan. Sehingga pemahamannya terhadap ayat-ayat Allah bisa salah dan jauh dari kehendak dan maksud Allah berfirman :
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ.
Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (an-Nahl 16 : 98-100)
Memohon izin kepada Allah dengan membaca basmalah agar diberikan kekuatan dan bimbingan serta kemudahan dalam memahami makna-makna Al-Qur`an. Dengan kekuatan dan bimbingan-Nya kita akan mampu menangkap dan memahami pesan Al-Qur`an dengan benar. Allah berfirman :
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha 20 : 114)
3. Hatinya harus suci sehingga mampu menangkap pesan Al-Qur`an dengan jernih dan benar. Tidak hanya sekedar suci badan dengan cara berwudhu, tetapi yang lebih penting adalah suci batin dan bersihnya hati. Sebab tanpa kesucian batin dan bersihnya hati kita tidak akan mampu menyentuh dan menangkap makna sejati dari pesan Allah yang disampaikan dengan media Al-Qur`an. Allah berfirman :
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ.
tidak menyentuhnya (memahami makna sejati Al-Qur`an) kecuali hamba-hamba yang disucikan. (al-Waqi`ah 56 :79)
4. Membacanya dengan tartil, pelan-pelan, tenang, dan tidak terburu-buru, agar mampu memahami makna Al-Qur`an dengan tepat dan benar. Tartil bermakna membaca sesuai dengan tajwid yang benar. Allah berfiraman :
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ. إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ.
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (al-Qiyamah 75 : 16-19)
5. Berserah diri kepada Allah, tidak melibatkan ego dan hawa nafsu dalam memahami Al-Qur`an, tetapi membiarkan Allah yang menjelaskan firman dan tanda-Nya kepada kita. Karena membaca Al-Qur`an adalah aktivitas berkomunikasi dengan Allah, maka berikanlah waktu untuk Allah untuk berbicara dengan kita, untuk menjelaskan maksud dari firman-Nya. Allah berfirman :
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ.
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (an-nahl 16 : 102)
MEMBUMIKAN AL-QUR`AN
Al-Qur`an adalah wahyu Allah terakhir kepada umat manusia. Kitab suci ini mengandung semua kunci untuk membuka pengetahuan Allah yang tidak terbatas (Q.S. Al-Kahfi 18:109). Al-Qur`an adalah petunjuk Allah. Allah berfirman, “Kitab Al-Quran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah 2: 2).
Dengan mempelajari Al-Quran, seseorang akan terlepas dari kebodohan dan kesesatan dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan Al-Quran, hati akan lembut dan terhindar dari penyakit-penyakit hati atau ruhani. Dada akan senantiasa lapang dan luas dalam menerima petunjuk-petunjuk dan titah-titah ketuhanan. Akal pikiran menjadi cerdas dan terbebas dari kesesatan berpikir picik dan dangkal. Perilaku akan terhindar dari gerak jiwa yang dapat mendatangkan petaka dan kerugian bagi diri, orang lain maupun linkungannya. Seluruh aktivitas diri akan senantiasa terarah dari dan menuju kebenaran. Rasulullah Saw. bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah siapa yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain”. (H.R. Bukhari dari Utsman ibn `Affan Ra).
Al-Quran merupakan jaring yang ditebarkan oleh Yang Maha Tunggal untuk menarik kaum pria dan wanita yang tersesat di dalam dunia ini agar kembali kepada sumber Ilahi mereka. Al-Qur`an adalah peta dan petunjuk kehidupan. Hidup dalam sinaran petunjuk Al-Quran dan mematuhi ketentuan-ketentuannya merupakan kunci untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Untuk bisa hidup dalam sinaran petunjuk Al-Quran, manusia haruslah melakukan iqra’. Iqra` terambil dari akar kata qara`a yang berarti “menghimpun”, sehingga tidak harus selalu diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu”. Dari “menghimpun” lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu , dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.
Melakukan iqra` terhadap Al-Quran berarti kita melakukan aktivitas membaca, menelaah, menganalisa, memahami, mendalami, menyelami, mengamalkan dan mengambil hikmah dalam kehidupan. Aktivitas ini merupakan perpaduan antara kinerja qalbu (hati) dan akal.
Membaca teks Al-Quran adalah aktivitas awal dan fondasi awal dalam melakukan iqra`. Aktivitas ini meliputi mengenal huruf Al-Quran dan cara mengucapkannya; cara membacanya, memanjangkan yang seharusnya dibaca panjang dan memendekkan yang seharusnya dibaca pendek (tajwid Al-Quran).
Aktivitas membaca teks yang sudah benar mengantarkan pembacanya untuk tahapan selanjutnya yaitu menelaah, memahami, menganalisa, dan mendalami Al-Quran. Aktivitas ini dimulai dengan mempelajari makna kata-kata Al-Quran, atau apa yang biasa disebut dengan belajar tarjamah Al-Quran. Setelah mengerti makna tiap-tiap kata dari ayat Al-Quran, maka langkah selanjutnya adalah mencoba menafsirkankan dengan bantuan atau rujukan kepada kitab-kitab tafsir yang ada sebagai upaya dari proses “menelaah, memahami, menganalisa, dan mendalami” Al-Quran.
Setelah proses pertama dan kedua selesai, maka proses ketiga adalah mengamalkan dan menjadikannya akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini sering disebut sebagai upaya untuk “membumikan” Al-Quran. Al-Quran tidak lagi hanya kumpulan teks atau firman Tuhan yang terdiri dari 30 Juz dan 114 Surah, tetapi merupakan sumber inspirasi dan pedoman hidup manusia dalam mengarungi kehidupan mereka. Al-Quran tidak lagi hanya sebagai ajaran yang melangit tetapi sudah membumi lewat umat Islam yang akhlak dan perilakunya sesuai dengan ajaran Al-Quran. Ketika Aisyah Ra ditanya para sahabat tentang akhlak Rasulullah Saw, Aisyah menjawab : “ Kaana khuluquhul Al-Quran, Bahwanya akhlak Rasulullah adalah Al-Quran”. Rasulullah adalah Al-Quran berjalan. Beliau adalah model paling ideal pengamal Al-Quran. Pada pribadi beliau ada uswatun hasanah, contoh atau teladan yang baik. Allah berfirman, “ Sungguh telah ada buat kalian pada pribadi Rasulullah Saw. teladan yang baik bagi orang yang mendambakan bertemu Allah dan hari akhir, dan yang banyak mengingat Allah” (Q.S. Al-Ahzab 33: 21).
Wallaahu a`lam bish shawwab
Sekian dulu ya sobht_sardhy sahabat
Smoga bermanfaat
wassalamu alaikum Wr.wb
No comments:
Post a Comment
jangan lupa dikomentari ya..